Header Ads

Banner_KPU

Pemilih di Kota Tangerang Cenderung Rasional

TANGERANG—Meski Kota Tangerang baru akan menggelar Pemilihan Walikota dan Wakil Walikota (Pilwakot) pada Juni 2018, namun KPU Kota Tangerang mulai mengkaji kecenderungan pemilih. Kajian dilakukan melalui penelitian partisipasi masyarakat pemilih di Kota Tangerang dengan membandingkan perilaku dan pandangan pemilih antara Pilpres-Pileg 2014, Pilwakot 2013, dan Pilgub 2011. Penelitian bertujuan untuk mengetahui motivasi pemilih datang ke TPS atau tidak datang ke TPS. 

Dari empat gelaran pemilu dan pilkada paling akhir, yakni Pilpres 2014, Pileg 2014, Pilwakot 2013, dan Pilgub 2011, partisipasi masyarakat pemilih di Kota Tangerang rata-rata 66,86 persen, dengan rincian: pilpres 74,13 persen, pileg 66,45 persen, pilwakot 62,52 persen, dan pilgub 64,32 persen. Diketahui bahwa partisipasi pemilih pada pemilihan presiden paling tinggi sementara pada pemilihan walikota paling rendah.

Apa yang mendorong pemilih datang ke TPS? Pada Pemilu Presiden, 24 persen responden mengaku datang ke TPS hanya sekadar memilih. Namun, ada 21 persen responden menyatakan datang ke TPS karena menengarai sang capres dan cawapres dianggap mampu bekerja untuk meningkatkan kesejahteraan sosial-ekonomi masyarakat. Selain itu, ada 18 persen responden memilih karena menaruh harapan yang tinggi kepada capres-cawapres, 10 persen karena tahu rekam-jejak, dan 9 persen mengenal figur capres-cawapres. Selebihnya, 9 persen memilih karena terpengaruh orang lain dan 9 persen karena alasan lain, seperti menilai pilpres lebih penting ketimbang memilih dalam pileg.

Pada Pemilu Legislatif, survei menyatakan, 36 persen responden menyatakan bahwa kedatangan mereka ke TPS karena menyalurkan aspirasi politik; ingin berpartisipasi dalam pesta demokrasi, menggunakan hak pilih dan tidak ingin golput serta sebagai tanggung jawab sebagai warga negara. Namun, ada 22 persen responden menyatakan sekadar memilih. Di samping itu, 13 persen menaruh harapan bahwa caleg akan bekerja pro-rakyat; 10 persen karena mengetahui rekam jejak caleg; dan 7 persen mengenal caleg. Namun demikian, 2 persen responden menyatakan motivasi datang ke TPS karena ada imbalan (uang/barang) dari caleg. Sisanya karena alasan lain sebesar 10 persen.

Perbedaan cukup nyata terjadi pada Pilwakot. Di Pilwakot perilaku pemilih dalam menjatuhkan pilihannya sangat dipengaruhi oleh figur calon. Sejumlah 25 persen responden menyatakan memilih karena mengenal figur sang calon. Selain itu, masyarakat pemilih menyatakan, menggunakan hak pilihnya sebagai saluran aspirasi politik sejumlah 14 persen, karena ajakan teman atau saudara 18 persen, sekadar memilih 11 persen, 10 persen karena menaruh harapan pada calon, 6 persen tahu rekam-jejak, 3 persen karena ada imbalan, dan 13 persen sisanya karena alasan lain.

Adapun pemilih yang tidak datang ke TPS pada Pilwakot karena alasan tidak mengetahui visi-misi calon 26 persen, tidak percaya terhadap pemerintah kota 12 persen, tidak tahu tanggal pemilihan dan atau lokasi TPS 5 persen, tidak terdaftar sebagai pemilih atau tidak mendapat pemberitahuan 15 persen, ada urusan lain 17 persen, malas 13 persen, membuang waktu 3 persen, dan 9 persen karena alasan lain.

Sementara pada Pemilihan Gubernur, pemilih menyatakan datang ke TPS karena sekadar memilih 32 persen, rekam-jejak calon 18 persen, ada harapan dari calon 17 persen, mengenal figur 8 persen, terpengaruh oleh lingkungan atau tim kampanye 12 persen, adanya imbalan 4 persen, dan alasan lain 9 persen. 

Adapun pemilih yang tidak datang ke TPS pada Pilgub karena berbagai alasan: tidak mengetahui visi-misi calon atau tidak mengenal calon 15,75 persen, tidak percaya terhadap pemerintah daerah provinsi 9,75 persen, tidak tahu tanggal pemilihan dan atau lokasi TPS 6 persen, tidak terdaftar sebagai pemilih atau tidak mendapat pemberitahuan 14,75 persen, ada urusan lain 30 persen, malas 12,75 persen, membuang waktu atau tidak penting 4,75 persen, tidak tahu atau tidak jawab 13 persen, dan alasan lain 0,5 persen.

“Jika kita melihat gambaran tersebut, secara umum, pemilih di Kota Tangerang cenderung rasional,” kata Banani Bahrul, komisioner KPU Kota Tangerang divisi teknis pemilu dan partisipasi masyarakat. Dia menuturkan, meski cukup banyak pemilih yang rasional dan memahami pilihannya tapi masih signifikan pemilih yang sekadar memilih, terpengaruh oleh orang lain, bahkan dapat “dibeli”. “Gambaran ini menjadi bekal kami untuk menyusun usulan dan menentukan kebijakan sosialisasi dan pendidikan politik ke depan,” imbuhnya. []

1 komentar:

  1. Sukses buat Pemilukada tahun ini. Stop Golput. Sosialisasi dan pendekatan yang dilakukan oleh bakal calon walikota mempengaruhi rasionalitas para pemilih. Terimakasih

    BalasHapus