Partisipasi di Kota Tangerang Berkategori “Sedang”

Pada Kamis, 10 September 2015 KPU Kota Tangerang menggelar konferensi pers dalam rangka publikasi hasil riset partisipasi masyarakat di ruang media center KPU Kota Tangerang. Hadir 13 media lokal dan nasional, cetak dan elektronik, dari 20 media yang diundang, yakni: SatelitNews, Tangsel Pos, Banten Raya, Suluh Banten, Tangerangnews.com, Kabar6.com, Tangerangsatu.com, Hariantangerang.com, Portaltangerang.com, CTV Banten, MNC Radio, Elshinta, dan tvOne. 

Dalam konferensi pers, komisioner KPU Kota Tangerang Divisi Teknis Pemilu dan Partisipasi Masyarakat Banani Bahrul, dengan didampingi para komisioner lain, sekretaris, dan kepala sub bagian tekpem dan parmas, mempresentasikan hasil riset bertema “Kehadiran dan Ketidakhadiran Pemilih di TPS (Voters Turn-Out)”. Pada sesi tanya-jawab, sejumlah pertanyaan diajukan oleh para wartawan dan dijawab oleh para komisioner. Berikut ini catatan sesi tanya-jawab:

Tanya-jawab pertama:

Adakah kemungkinan perubahan angka partisipasi dari riset setelah gelaran dengan sebelum gelaran?

Kami menengarai, banyak faktor yang dapat mempengaruhi partisipasi. Riset yang kami lakukan ini adalah riset pasca gelaran pemilu dan pilkada. Apakah jika dilakukan riset kembali menjelang gelaran nanti partisipasi akan sama atau berubah bergantung pada sejumlah faktor, di antaranya kami sebagai penyelenggara, faktor kontestan, dan media. Bisa saja faktor kontestan yang misalnya petahana dan dinilai baik oleh masyarakat atau muncul kandidat baru yang dapat diharapkan akan memunculkan antusiasme. 

Tanya-jawab kedua:

Apakah partisipasi di Kota Tangerang dapat dikatakan lebih baik dari kabupaten/kota se-Provinsi Banten?

Penelitian ini bukan untuk membandingkan tingkat partisipasi antar daerah. Tapi hanya meneliti faktor yang memotivasi pemilih datang ke TPS atau enggan datang ke TPS. Dan cakupan penelitian ini hanya Kota Tangerang saja. Namun demikian, untuk mengetahui angka partisipasi antar kabupaten-kota di Banten mudah saja, kita dapat melihatnya di rekapitulasi KPU Provinsi Banten. 

Tanya-jawab ketiga:

Saya melihat ada perbedaan angka-angka dari slide presentasi tadi dengan rilis yang saya baca. Mana yang valid di antara keduanya? Jangan-jangan data ini sekadar menampilkan angka-angka saja?

Persentase angka di pembukaan rilis itu adalah persentase dari gelaran empat gelaran yang telah terlaksana. Data itu diambil dari formulir rekapitulasi. Sementara yang tadi di presentasi adalah hasil riset. Maka itu tidak sama. Dari 400 responden yang kami wawancara kan tidak kami ketahui terlebih dahulu apakah ia berpartisipasi atau tidak. Untuk itulah dipertanyaan pertama dalam wawancara kami: apakah anda hadir atau tidak di TPS. Dari seluruh responden yang menjawab “hadir” sekian persen, yang menjawab “tidak hadir” sekian persen, dan yang “ragu-ragu” karena lupa atau tidak yakin bahwa dirinya datang atau tidak ke TPS sekian persen. Angka itu tentu wajar belaka jika berbeda dengan angka partisipasi dalam gelaran pemilu atau pilkada. 

Tanya-jawab keempat:

Setelah mengetahui partisipasi tidak sesuai harapan KPU RI, yakni 75 persen, adakah kiat khusus untuk meningkatkan partisipasi di pilkada dan pemilu mendatang? 

Untuk mendongkrak angka partisipasi tentu tugas penyelenggara adalah melakukan sosialisasi dan pendidikan politik dengan lebih baik. Selain itu, peran kontestan juga penting untuk dapat mempengaruhi keterpikatan masyarakat pemilih. Memang, dari sisi kami butuh terobosan dalam mendesain model sosialisasi yang lebih kreatif untuk menjangkau ke sebanyak mungkin pemilih dari strata yang berbeda-beda. 

Tanya-jawab kelima:

Mengapa respondennya hanya 400 orang, mengapa tidak 100 orang setiap kecamatan, misalnya?

Semakin banyak jumlah responden memang semakin baik. Tapi, kami mengambil sampel secara acak 400 orang mewakili 5 dapil yang ada di Kota Tangerang. Jumlah itu sudah memadai untuk sebuah penelitian deskripsi kualitatif.  

Tanya-jawab keenam:  

Ini saran saja. Bagaimana agar ke depan tidak terulang lagi kericuhan seperti yang terjadi di Bandara pada Pilpres kemarin.

Betul. Kami berterima kasih atas sarannya. Sebagai penyelenggara kami sepenuhnya berpijak pada ketentuan dan aturan. Sementara ada pemilih yang belum memahami seutuhnya ketentuan itu. Ada prosedur memilih yang diatur dari Peraturan KPU. Solusi idealnya adalah kami lebih giat lagi menyosialisasikan tentang mekanisme memilih. Dalam kasus pemilih di Bandara Soekarno-Hatta pada Pilpres 2014, salah satu komisioner KPU Kota Tangerang melakukan monitoring di lokasi dan memberi penjelasan kepada pemilih yang tidak dapat memilih. Pemilih di TPS Bandara adalah: pertama, yang terdaftar di DPT; kedua pemilih yang memiliki surat keterangan pindah memilih—kami menyebutnya formulir model A-5 PPWP—dari Panitia Pemungutan Suara (tingkat kelurahan) tempat ia terdaftar sebelumnya atau di KPU daerah tujuan. Di TPS Bandara tidak dapat memilih hanya dengan KTP saja.  

Tanya-jawab ketujuh:  

Apakah angka partisipasi pemilu dan pilkada di Kota Tangerang termasuk rendah? Berapa batasan partisipasi dapat dikatakan baik?

Jika mengambil skala Indeks Demokrasi Indonesia yang diterbitkan oleh Badan Pusat Statistik dengan tiga kategori performa demokrasi, maka rata-rata partisipasi pemilih dalam empat gelaran pemilu dan pilkada terakhir di Kota Tangerang yang 66,86 persen masuk dalam kategori sedang. Dalam skala Indeks Demokrasi Indonesia, performa demokrasi yang berada di angka 60 hingga 80 persen masuk dalam kategori medium performance democracy, 80 persen ke atas dikategorikan high performance democracy, sementara di bawah 60 persen masuk dalam kategori low performance democracy.

Setelah tanya-jawab usai, konferensi pers ditutup dengan doa untuk kelancaran dan kebaikan gelaran pilkada di tahun 2015 dan pilkada-serta-pemilu yang akan datang. []    
Share on Google Plus

About KPU Kota Tangerang

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment